March 7, 2012



Versi materi oleh Bondet Wrahatnala


Dalam kehidupan sosial budaya di masyarakat, kita mengenal tiga bentuk mobilitas sosial, yaitu mobilitas fisik, mobilitas horizontal, dan mobilitas vertikal.



a. Mobilitas Fisik (Physical Mobility)

Mobilitas fisik memberi kemungkinan dan kesempatan kepada seseorang untuk memindahkan tempat kediaman dalam hubungannya dengan alat-alat transportasi dan lalu lintas modern. Artinya, dengan adanya alat-alat transportasi dan lalu lintas modern, akan memberikan kemudahan anggota masyarakat untuk melakukan perpindahan dari satu daerah ke daerah lain. Akibatnya, akan terjadi proses-proses asimilasi dan akulturasi yang selanjutnya akan membawa pengaruh tertentu, misalnya kita sering tidak mengenal latar belakang sosial dari seorang pendatang baru. 

Contohnya, dengan adanya alat transportasi dan lalu lintas mutakhir, seperti pesawat terbang, kereta api cepat atau yang lainnya, merangsang pemikiran seseorang untuk melakukan perpindahan secara fisik dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini terjadi karena adanya kemudahan bagi seseorang untuk mendapatkan fasilitas tersebut, tentunya yang dapat dijangkau oleh kemampuan individu tersebut.



b. Mobilitas Horizontal (Horizontally Mobility)

Menurut Soerjono Soekanto, mobilitas horizontal dapat diartikan sebagai perpindahan individu atau objek-objek social lainnya dari suatu kelompok ke kelompok lainnya yang sederajat. Atau dapat dikatakan pula sebagai perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok warga secara mendatar dalam lapisan sosial yang sama. Mobilitas sosial horizontal ini memberi kemungkinan perubahan dalam pekerjaan dan atau kedudukan yang tidak bersifat sebagai suatu pergeseran dalam hierarki sosial. Ciri utama mobilitas sosial horizontal adalah lapisan sosial yang ditempati tidak mengalami perubahan. Sebagai contohnya Pak Hendra, seorang pengusaha meubel (furniture) berkualitas ekspor.

Karena telah memiliki keuntungan yang besar dan banyaknya jaringan bisnis yang terjalin dari usahanya, kini Pak Hendra beralih usaha sebagai perancang desain interior untuk meubel (furniture). Dalam hal ini ia melakukan mobilitas horizontal. Karena dalam perpindahan usahanya tersebut,tidak terjadi perubahan status, di mana sebelumnya seorang pengusaha meubel dan setelah melakukan perpindahan tetap menyediakan jasa yang berhubungan dengan meubel (furniture).

Dalam masyarakat, kita mengenal dua bentuk mobilitas horizontal, yaitu mobilitas horizontal intragenerasi dan mobilitas horizontal antargenerasi.

1) Mobilitas horizontal intragenerasi 

adalah mobilitas horizontal yang terjadi dalam diri seseorang. Misalnya seorang dosen sebuah perguruan tinggi swasta yang ingin memperbaiki nasibnya. Ia mencoba mengikuti serangkaian tes untuk diterima sebagai dosen di perguruan tinggi negeri. Setelah melewati beberapa tahapan tes, akhirnya ia diterima dan menjadi dosen di perguruan tinggi negeri.

2) Mobilitas horizontal antargenerasi

adalah mobilitas horizontal yang terjadi dalam dua generasi atau lebih. Misalnya, Sukardono adalah seorang anggota TNI dengan pangkat mayor, yang dapat digolongkan ke dalam lapisan menengah. Sedangkan Munaf, anaknya, tidak mau mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang anggota TNI, dan lebih memilih menjadi seorang dosen di perguruan tinggi negeri yang berada pada lapisan menengah pula. Perubahan dari pekerjaan sang ayah sebagai anggota TNI dengan pangkat mayor ke anaknya sebagai seorang dosen perguruan tinggi negeri merupakan bentuk mobilitas horizontal antargenerasi yang dapat kita temui di masyarakat.


c. Mobilitas Vertikal (Vertically Mobility)

Mobilitas vertikal adalah sebuah peralihan individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Mobilitas vertikal ini memberi kemungkinan terjadinya pergeseran status, baik ke atas maupun ke bawah.

1) Macam-Macam Mobilitas Vertikal
Berdasarkan penjelasan tersebut, sesuai dengan arahnya kita dapat membedakan mobilitas vertikal atas mobilitas vertikal naik dan mobilitas vertikal turun.

a) Mobilitas vertikal naik (social climbing atau upward  mobility) adalah peralihan individu atau objek-objek social menuju pada tingkat yang lebih tinggi. Adapun yang
menjadi ciri-ciri mobilitas ini adalah sebagai berikut.
(1) Masuknya individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi.
(2) Pembentukan kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu pembentuk kelompok tersebut.

b) Mobilitas vertikal turun (social sinking atau downward mobility) adalah peralihan individu atau objek-objek sosial menuju pada tingkat yang lebih rendah. Adapun yang menjadi ciri-ciri mobilitas ini adalah sebagai berikut.
(1) Turunnya kedudukan sosial individu ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya.
(2) Turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa disintegrasi dalam kelompok sebagai suatu kesatuan.
Di samping itu, kita juga dapat membedakan mobilitas vertikal ini atas mobilitas vertikal intragenerasi dan mobilitas vertikal antargenerasi.

a) Mobilitas vertikal intragenerasi adalah mobilitas vertikal yang terjadi dalam diri seseorang atau mobilitas yang dialami oleh orang itu sendiri. Misalnya bekerja di perusahaan itu Resita adalah seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jurnalistik. Pada awalnya, ia melamar dan diterima sebagai reporter atau wartawan. Karena prestasinya, dua tahun kemudian ia dinaikkan kedudukannya sebagai redaktur. Setelah dua tahun menjadi redaktur, dirinya dinilai pantas untuk menduduki jabatan sebagai pimpinan redaksi, dikarenakan dedikasinya kepada perusahaan sangat baik. Dalam hal ini, Resita mengalami mobilitas vertikal
intragenerasi naik. Selain itu juga ada mobilitas vertikal intragenerasi turun. Contohnya adalah yang diturunkan pangkatnya atau bahkan dikeluarkan (desersi)dari kesatuan karena menyalahgunakan kekuasaan seorang anggota militer.

b) Mobilitas vertikal antargenerasi adalah mobilitas vertikal yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Misalnya generasi ayah–ibu, generasi anak, generasi cucu dan seterusnya, atau generasi sekarang dengan generasi terdahulu. Contohnya, zaman dulu ayahnya adalah seorang buruh tani yang tidak berpendidikan dan miskin, tetapi ia berhasil mendidik dan menyekolahkan anaknya, sehingga anaknya menjadi seorang sarjana dan kemudian menjadi seorang pengusaha sukses yang kaya.

2) Prinsip Umum Mobilitas Vertikal
Berdasarkan penjelasan mengenai mobilitas vertikal di atas, perlu kamu ketahui bahwa Pitirim A. Sorokin mengemukakan adanya beberapa prinsip umum yang sangat penting bagi mobilitas vertikal, antara lain sebagai berikut.

a) Hampir tidak ada masyarakat yang sifat system pelapisannya secara mutlak tertutup, sekalipun itu pada masyarakat yang memakai tipe kasta seperti di India, walaupun mobilitas sosialnya hampir tidak tampak, namun diyakini proses mobilitas social vertikal ini pasti ada.
b) Betapapun terbukanya sistem pelapisan sosial dalam suatu masyarakat, tidak mungkin mobilitas social vertikal dapat dilakukan sebebas-bebasnya, atau dengan kata lain sedikit banyak pasti ada hambatannya.
c) Tidak ada mobilitas sosial vertikal yang umum yang berlaku bagi semua masyarakat. Setiap masyarakat memiliki ciri-ciri khas dalam mobilitas sosial vertikal.
d) Laju mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik, serta pekerjaan adalah berbeda-beda.

3) Proses-Proses dalam Mobilitas Vertikal
Dalam mobilitas vertikal yang memberi kemungkinan terjadinya perpindahan kedudukan yang tidak sederajat ini di dalamnya terjadi proses-proses seperti penerimaan, kenaikan pangkat, degradasi, dan pelepasan.

a) Penerimaan
Dalam masyarakat modern, untuk memperoleh nilai tambah dibutuhkan syarat-syarat pendidikan, baik itu melalui sekolah dan perguruan tinggi umum, maupun melalui latihan dinas intern dalam jawatan, kantor, ataupun perusahaan. Kualitas seseorang menjadi syarat yang dipentingkan dalam masyarakat modern untuk bisa menduduki suatu jabatan tertentu di sebuah instansi atau perusahaan.

b) Kenaikan Pangkat
Dalam hal, ini kenaikan pangkat atau kedudukan terutama di bidang pekerjaan dititikberatkan pada kualitas dan kemampuan seseorang. Termasuk prestasi dan dedikasinya terhadap pekerjaan sangat diperhitungkan sebagai bahan pertimbangan kenaikan pangkat atau kedudukan.

c) Degradasi
Degradasi atau menurunkan kedudukan merupakan suatu tindakan untuk mengganti seseorang yang kurang cakap dengan seseorang yang lebih cakap, tetapi dapat pula merupakan suatu hukuman karena pelanggaran terhadap aturan-aturan yang telah disepakati.

d) Pelepasan
Pelepasan biasanya terjadi karena suatu kesalahan atau kecakapan yang kurang, mengingat usia yang sudah cukup tua dan pantas untuk dipensiun. Di dalam suatu lingkungan kerja, selain usia yang sudah tidak produktif, tingkat pelanggaran juga diperhitungkan untuk melepas seseorang dari kelompok tersebut. Hal ini terutama terjadi di dalam sebuah perusahaan swasta, karena dapat menghambat kinerja perusahaan itu sendiri.

4) Saluran-Saluran Mobilitas Vertikal
Menurut Pitirim A. Sorokin, mobilitas sosial vertical mempunyai saluran-saluran dalam masyarakat, yang berarti melalui saluran-saluran itu mobilitas sosial vertical dapat terjadi. Proses mobilitas sosial vertikal melalui saluran-saluran tersebut menurut Pitirim A. Sorokin disebut sebagai social circulation (sirkulasi sosial). Adapun saluran-saluran tersebut di antaranya adalah angkatan bersenjata, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, organisasi politik, organisasi ekonomi, organisasi keahlian, dan perkawinan.

a) Angkatan Bersenjata
Angkatan bersenjata atau dalam hal ini ketentaraan merupakan saluran mobilitas sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam struktur militer, terdapat unsure yang memungkinkan untuk terjadinya mobilitas sosial. Di dalamnya terdapat jenjang kepangkatan,jenjang karier, dan juga kemungkinan untuk menduduki jabatan penting di struktur pemerintahan. Sebagai anggota  militer, individu yang memiliki kemampuan dan prestasi yang baik akan dapat merubah stratanya menjadi lebih tinggi, tentu saja dipertimbangkan pula jasa-jasanya terhadap  negara.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya penurunan pangkat atau bahkan pemecatan secara tidak hormat kepada individu-individu yang sengaja atau tidak telah menyalahgunakan kedudukannya sebagai anggota sistem ini. Misalnya terlibat dalam pembunuhan, pemakaian narkoba, atau terlibat dalam penyelundupan barang-barang yang akhirnya merugikan institusi, dan lain sebagainya.

b) Lembaga Keagamaan
Agama apapun mengajarkan bahwa manusia dalam keadaan sederajat. Atas dasar itu, para tokoh agama berjuang keras meningkatkan ketakwaan umatnya untuk menaikkan kedudukan orang-orang yang merasa dari lapisan atau status rendah, mengingat dalam agama yang membedakan kedudukan seseorang adalah kadar ketakwaannya terhadap

Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian mereka akan dapat menyadari kedudukannya masingmasing. Mereka yang secara ekonomi mempunyai status sosial rendah berani bergaul dengan orangorang yang berstatus sosial lebih tinggi. Hal ini karena dalam lembaga keagamaan mobilitas dilihat dari sisi keimanannya terhadap agama yang dipeluknya, bukan strata dalam agama. Jika seseorang memiliki kadar keimanan yang tinggi, maka secara otomatis ia akan dihormati, disegani, dan dihargai karena penguasaannya terhadap ilmu agama lebih tinggi dari umat yang lain. Sebenarnya dalam agama tidak dikenal strata, namun strata yang dimaksud adalah strata keimanan kepada agama dan tentunya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

c) Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan formal seperti sekolah maupun lembaga pendidikan luar sekolah pada umumnya merupakan saluran yang nyata dari mobilitas social vertikal. Bahkan sekolah dianggap sebagai social elevator (pengangkat kedudukan sosial), di mana seseorang yang berasal dari kedudukan yang paling rendah dalam masyarakat dapat bergerak ke kedudukan sosial yang paling tinggi hanya karena berpendidikan.

Sekolah pada umumnya menjadi saluran konkret dari mobilitas sosial vertikal. Hal ini disebabkan individu-individu yang hidup dalam masyarakat mengalami pendidikan yang berjenjang mulai dari pendidikan dasar, menengah sampai puncaknya yaitu pendidikan tinggi.

Tamatan pendidikan tinggi seperti perguruan tinggi, biasanya diakui memiliki strata yang tinggi dalam masyarakat, karena penguasaan ilmu yang dimiliki sesuai dengan bidangnya. Namun demikian, tidak menutup peluang bagi individu lainnya yang akan melakukan mobilitas vertikal dalam pendidikan ini, untuk terus meniti strata yang ada dalam masyarakat. Tentunya untuk perbaikan status dan kesejahteraan hidup.

d) Organisasi Politik
Organisasi politik atau partai politik dapat member peluang bagi anggota-anggotanya untuk naik dalam lapisan sosial yang lebih tinggi. Seorang anggota partai yang pandai beragitasi, berorganisasi, mempunyai kepribadian yang baik, dan mempunyai aspirasi yang baik dapat meraih kedudukan yang terpandang dalam masyarakat.

e) Organisasi Ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu unsur di mana stratifikasi sosial itu dapat terjadi. Dalam masyarakat, seseorang yang kaya akan menempati strata yang tinggi dalam sistem stratifikasi sosial. Lebih-lebih jika orang-orang kaya itu menjabat kepengurusan dalam organisasi ekonomi, seperti perusahaan ekspor impor, biro perjalanan, yang mendorong lahirnya mobilitas vertikal naik. Namun sebaliknya, jika organisasi ekonomi itu bangkrut, maka orang di dalamnya akan mengalami mobilitas vertikal turun.

f) Organisasi Keahlian
Organisasi keahlian seperti Persatuan Artis, Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Wartawan Indonesia dan lain sebagainya dapat menjadi saluran bagi terjadinya mobilitas sosial. Hal ini dikarenakan di dalam organisasi ini terdapat struktur yang memungkinkan untuk terjadinya mobilitas sosial, baik horizontal maupun vertikal.

g) Perkawinan
Melalui perkawinan akan terjadi mobilitas social vertikal, bisa naik maupun turun. Misalnya seorang pemuda yang berasal dari kelas atas yang menikah dengan seorang pemudi dari kelas bawah. Dengan pernikahan itu, maka pemudi tersebut telah melakukan mobilitas sosial naik.

0 komentar:

Post a Comment