May 30, 2012


Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan



Para Wali Lainnya

Para wali memegang peranan yang besar dalam penyebaran Islam di Jawa. Dengan kesabaran dan kearifan, agama Islam disampaikan kepada masyarakat hingga diterima dan cepat berkembang di Jawa. Di samping Wali Sanga, banyak wali lainnya ikut andil dalam pengembangan Islam di Jawa, meski sebagian dibunuh dan tidak diakui oleh Wali Sanga, seperti:


(1) Syekh Subakir;

(2) Sunan Bayat atau Tembayat;

(3) Sunan Geseng;

(4) Syekh Mojoagung;

(5) Syekh Siti Jenar;

(6) Maulana Ishak dari Pasai, Aceh, mengislamkan rakyat Blambangan (Pasuruan dan sekitarnya) di Jawa Timur bagian timur;

(7) Syekh Jangkung; pernah berniat mendirikan masjid tanpa izin dan oleh Sunan Kudus akan dihukum mati namun diselamatkan oleh Sunan Kalijaga;

(8) Syekh Maulana; berasal dari Krasak-Malang, dekat Kalinyamat, murid Sunan Gunung Jati; karena pernah mempermalukan dalam perdebatan tentang ilmu mistik ia dibunuh atas perintah Sunan Kudus.

Dari Pulau Jawa, Islam lalu berkembang ke wilayah-wilayah lain di Indonesia. Islamisasi ke Kalimantan dilakukan oleh para ulama utusan Demak. Sedangkan Islam di Maluku, Ternate, dan Tidore disebarkan oleh Sultan Ternate, Zainal Abidin, setelah belajar ke Giri, Jawa Timur. Makassar diislamkan oleh para mubalig dari Sumatera dan Malaka (Malaysia). Kemudian, orang Makassar mengislamkan orang Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat antara tahun 1540-1550. Sementara itu, penduduk Flores di Nusa Tenggara Timur diislamkan oleh orang Bugis.

Agama Islam masuk ke Nusantara dengan jalur berlainan. Seperti di luar Jawa yakni Sulawesi, penyebar agama Islam di Sulawesi bernama Dato’ri Bandang. Di Kutai, Kalimantan Timur penyebar agama Islam adalah Dato Bandang dan Tuang Tunggang. Peran seorang penghulu di Demak tidak kalah pentingnya dalam penyebaran agama Islam, melalui pengajaran kepada Sultan Suryanullah. Dan masih banyak lagi tokoh yang berperan syiar Islam ke seluruh Nusantara.

Proses islamisasi di Nusantara dapat dikatakan relatif mudah. Hubungan secara tidak langsung antara pedagang muslim antara lain, para mubaligh, ustadz, ahli-ahli tasawuf telah menerapkan ajarannya melalui kesepakatan perdagangan yang tidak berbelitbelit. Golongan penerima Islam juga melakukan tindakan yang sama, yakni menyebar ajarannya pada masyarakat sekitarnya.

Bahkan jika ia seorang bangsawan atau pejabat keraton akan lebih memperlancar jalannya penyebaran tersebut. Berdirinya tempat peribadatan seperti langgar, masjid, majelis taklim, dan sebagainya digunakan juga sebagai syiar agama Islam. Seni juga menjadi salah satu saluran proses islamisasi di Nusantara.

Cabang-cabang seni yang lebih mudah penyentuh hati masyarakat sekitar adalah seni bangun, seni pahat, seni ukir, seni qasidah, dan sebagainya. Bukti-bukti perkembangannya adalah bangunan Masjid Agung, Demak, Cirebon, Bantem, Banda Aceh yang kemudian menjadi pusat kegiatan syiar Islam ke daerahnya. Di Keraton Cirebon juga kita temukan seni ukir yang bercorak Islami yaitu ukiran lafal ayat-ayat Al Qur’an.

0 komentar:

Post a Comment