June 12, 2012

Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan



Konsep Kekuasaan

Bentuk akulturasi, tidak terjadi hanya dalam wilayah kesenian dan sosial kemasyarakatan, melainkan juga merambah ke dalam dunia politik dan kekuasaan. Dalam tradisi Jawa Hindu-Buddha, seorang raja selalu ditempatkan menjadi seorang yang memiliki tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan manusia lain. Begitu pula dalam ajaran Islam, raja atau sultan dipandang sebagi wali atau wakil Tuhan di muka bumi agar kehidupan bermasyarakat terjamin.


Seorang sultan akan dipandang rendah bila ia tak mampu mengembang amanah rakyat yang dipercayakan ke pundaknya. Dan konsepsi akan kekuasan Hindu-Buddha dan Islam tersebut pertama-tama akan berhadapan dengan konsep kekuasaan tradisional, yang senantiasa dihubung-hubungkan dengan alam gaib. Karena anggapan dan persepsi tadi, konsep kekuasaan, baik pada masa Hindu-Buddha maupun Islam, selalu disangkutpautkan dengan hal-hal mistis, contohnya:

(a) Seorang raja di Jawa, baik ia Hindu, Buddha, atau Islam, selalu akan memperkuat legitimasi kekuasannya dengan mengaku sebagai ”suami” dari Nyi Roro Kidul, tokoh wanita cantik yang legendaris yang konon penguasa Pantai Selatan (Segara Kidul) di Pulau Jawa (Samudera Indonesia).

(b) Seorang raja selalu mengangkat dirinya sebagai penjelmaan dewa di dunia (dewaraja) atau seorang khilafah (utusan) Tuhan di muka bumi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat anggapan bahwa seorang raja memiliki hubungan tertentu dengan dewa atau Tuhan.

(c) raja-raja di Jawa selalu menggunakan gelar-gelar yang menunjukkan bahwa kekuasaan mereka sangat kuat dan agung, misalnya gelar Mas Jolang raja Mataram: ”Sultan Agung Hanyokrokusumo Senopati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidina Panatagama” yang seolah-olah ia merupakan raja sekaligus senapati tak tertandingi dalam peperangan dan juga sekaligus pemimpin agama. Atau lihat pula gelar yang dipakai Mpu Sindhok pendiri Dinasti Isana yaitu “Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa” yang menandai bahwa ia adalah penguasa bumi, wakil dewa, dan juga pendiri dinasti baru.

Raja-raja biasanya memiliki benda-benda pusaka yang biasa dipakai untuk menyimpan kekuatan magis. Kekuatan ini dalam anggapan para raja mampu menahan marabahaya, kesulitan, bencana alam dan gejolak alam lainnya. Benda-benda tersebut biasanya berbentuk keris, payung, tombak, gong, bahkan gamelan musik, dan benda-benda keramat lainnya. Kebesaran seorang raja atau penguasa pun hingga kini sering terlihat dari dipahatkannya patung-patung raja bersangkutan, seperti halnya raja-raja Hindu- Buddha pada masa lalu.

0 komentar:

Post a Comment