June 11, 2012

Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan



1. Sekatenan dan Grebeg Maulid

Upacara sekatenan diciptakan Sunan Bonang dalam rangka menyambut hari Maulud Nabi Muhammad Saw. yang jatuh pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriah. Jadi, sekatenan merupakan bagian dari acara grebeg Maulud. Sunan Bonang, seperti Sunan Kalijaga, menggunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwahnya.


Lagu gamelan wayang berisikan pesan-pesan ajaran agama Islam. Setiap bait diselingi ucapan syahadatain yang kemudian dikenal dengan istilah sekaten. Dalam tradisi sekatenan, semua pihak diharapkan keikutsertaannya, dari raja, abdi dalem istana, pasukan kerajaan, hingga rakyat kecil. Mereka tumpahruah di jalan guna berebutan berkah yang berupa nasi dan laukpauk berikut sayur mayurnya untuk disantap.

2. Kebatinan dan Kejawen

Kebatinan merupakan bentuk kerohanian yang menggabungkan kepercayaan agama kuno orang Jawa dengan tradisi mistik Hindu, Buddha, dan sufi-Islam (dan juga Kristen). Meski di luar Jawa terdapat pula pengikut kebatinan, namun sebagian besar pengikut ajaran ini memang orang Jawa. Ajaran kebatinan dan kejawen ini bukan hanya mencakup pengetahuan mistik, namun juga alam gaib yang dijalankan oleh kaum bangsawan maupun rakyat biasa. Dunia kebatinan ini sering disebut pula dunia asketisme dan dijalaninya dengan cara yang bermacam-macam, seperti bertapa, berpuasa, mengatur pernafasan.

Para pengikut kebatinan maupun kejawen tidak melaksanakan perintah syariat Islam secara lengkap. Mereka tidak sembahyang lima waktu, percaya terhadap kekuatan benda-benda sakti dan roh leluhur. Selain roh nenek-moyang, mereka pun memuja arwaharwah tokoh sejarah dan legendaris, misalnya tokoh Wali Sanga, Panembahan Senopati, dewa-dewi Hindu seperti Dewi Sri atau Batara Kala. Dalam acara ruwatan, misalnya, seseorang diharapkan terhindarkan dari segala marabahaya dan kesialan dengan menanggap pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

3. Tembangan

Selain Sunan Bonang, dakwah dengan menggunakan media seni dilakukan oleh Sunan Giri. Ia menciptakan lagu-lagu bernuansa Islam namun dengan langgam (nada-irama) Jawa. seperti ”Ilirilir” dan ”Jamuran”. Sunan Drajat pun menciptakan tembang berbahasa Jawa, yakni ”Pangkur”. Tak ketinggalan, Sunan Muria ikut menciptakan tembang seperti ”Sinom” dan ”Kinanti”.

Tembang ”Sinom” umumnya menggambarkan suasana ramah tamah dan berisi nasehat, sedangkan ”Kinanti” yang bernada gembira digunakan guna menyampaikan ajaran agama, nasihat, dan filsafat hidup. Sementara itu, Sunan Kalijaga berhasil menciptakan ”Dandanggula”, tembang yang berisi rukun iman.

Berikut ini petikan dari ”Dandanggula” dalam bahasa Jawa. ”...wa man tu bi’ilahi tegesi pun pracaya ing Allah ing Pangeran sejatine, ya Pangeran kang agung kang akarna bumi lan langit angganjar lawan niksa mring manusa sagung langgeng tur murba misesa maha suci angganjar paring rezeki, aniksa angapura”

Yang artinya adalah:
Sifat iman itu percaya kepada Allah
Tuhan yang sejati dan Yang Maha Besar
Yang menciptakan bumi dan langit, memberi dan menyiksa
Kepada seluruh manusia, kekal dan berbuat sekehendaknya
Yang memberi rezeki, yang memberi siksa dan mengampuni

4. Tradisi-Tradisi Lainnya

Selain tahlilan, halal bi halal, ziarah, sekatenan-gerebeg, dan tembangan Jawa, masih banyak tradisi lainnya yang dalam praktiknya terbentuk dari campuran tradisi lokal, Hindu-Buddha, dengan Islam. Tradisi tersebut mencakupi acara selamatan kelahiran bayi (aqiqah), hari ashura, sunat atau khitan, pernikahan, dan lain-lainnya. Tradisi-tradisi ini hampir terdapat di semua daerah Indonesia yang terpengaruh agama-budaya Islam.

Bagi masyarakat Bugis, tanggal 10 Muharam dirayakan sebagai hari ashura, yakni tradisi kaum Syiah dalam memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, yakni Husein bin Abi Thalib yang dihabisi musuhnya secara kejam. Pada perayaan ashura disajikan hidangan ”bubur tujuh macam” yang berisi lauk-pauk berbeda.

Khusus bagi masyarakat Sasak di Lombok, di daerah ini sebagian masyarakatnya melakukan praktik Islam yang berbeda dengan ajarah syariah Islam. Ajaran Islam-sinkretis yang dilakukan oleh masyarakat bagian utara dan selatan Pulau Lombok ini disebut wetu telu atau tiga waktu. Ajaran wetu telu ini hampir sama dengan ajaran Hindu-Bali dan kejawen-Jawa. Mereka percaya akan roh leluhur atau kerabat yang mati akan tetap hidup di dunia lain. Arwah leluhur itu dipercaya dapat menolong orang yang masih hidup. Ada dua orang yang dapat memanggil arwah leluhur, yakni pemangku dan kyai. Bagi penganut wetu telu, alam sekitar seperti mata air dan bukit, memiliki jiwa.

Dalam menjalankan ajaran Islam, para kyai tidak memimpin shalat lima kali sehari. Pada hari Jumat, khotbah tidak dilakukan. Di dalam mesjid wetu telu, terdapat patung kayu berbentuk naga yang disebut bayan, yang dianggap nenek moyang mereka.

0 komentar:

Post a Comment