June 9, 2012

Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan



Siak Sri Indrapura

Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Sebelum menjadi sultan, ia bernama Raja Kecil. Ayahnya adalah Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Johor, Malaysia. Kerajaan Siak Sri Indrapura ini berada di Negeri Buantan, sekitar 10 km di hilir Kota Siak Sri Indrapura, sebelah timur laut Pekanbaru, sekarang termasuk Provinsi Riau.


Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah mangkat pada tahun 1746. Ia digantikan oleh Abdul Jalil Muzhaffar Syah, puteranya. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Siak berhadapan memerangi Belanda pada tahun 1752. Pihak Kerajaan berhasil memukul pasukan Belanda.

Ketika masa pemerintahan Muzhaffar Syah, di Siak muncul seorang ulama dari Jazirah Arab bernama Sayid Usman. Ia menikahi puteri Sultan Aminuddin yang masih kerabat istana Siak. Dan ketika Abdul Jalil Muzhaffar Syah pada tahun 1760 turun tahta, tampuk Kerajaan diteruskan oleh Sayid Usman. Sejak itulah, yang memegang pemerintahan di Siak adalah Dinasti Usman.

Pada masa Dinasti Sayid inilah Belanda menyerang Siak untuk kedua kalinya, tahun 1751. Pada tahun 1784, yang memegang kekuasaan adalah Sultan Sayid Ali Abdul Jalil Saefuddin. Pada masa inilah, Siak mencapai kejayaannya. Hampir semua daerah Sumatera bagian timur dapat dikuasai. Sayid Ali Abdul Jalil Saefuddin memerintah hingga tahun 1811.

Sepeninggalnya Jalil Saefuddin, Siak mengalami kemunduran karena para penerusnya dalam menghadapi Belanda. Pada tahun 1858, akhirnya terjadi kesepakatan antara Siak dan Belanda. Kedua pihak menandatangani Traktat Siak. Isi dari traktat ini adalah: otonomi Kerajaan Siak tetap diakui Belanda namun beberapa daerah milik Siak harus diserahkan kepada Belanda. Keduabelas kekuasaan Siak itu antara lain: Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, Badagai, Kualiluh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta Deli. Akibat dari Traktat Siak inilah Siak mengalami kemunduran yang drastis.


0 komentar:

Post a Comment