July 5, 2013


Versi materi oleh Dibyo S


1. Pelapukan dan Pengikisan (Erosi)

Pelapukan ialah perusakan batuan kulit bumi karena pengaruh keadaan cuaca. Hasil pelapukan adalah terbentuknya tanah. Menurut prosesnya, pelapukan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimia, dan pelapukan organis.


a. Pelapukan Mekanis

Pelapukan mekanis ialah pelapukan yang bersifat merombak batuan secara mekanik, tanpa mengubah sifat batuannya. Pelapukan ini dapat terjadi karena perbedaan suhu siang malam dan beku celah.

1) Perbedaan Suhu Siang dan Malam
Pada siang hari batuan mengalami pemuaian. Pada malam hari, suhu turun sangat rendah menyebabkan batuan menyusut dengan cepat. Hal ini akan mengakibatkan batuan retak-retak dan akhirnya hancur berkeping-keping. Gejala seperti ini terdapat di daerah gurun.

2) Perubahan Volume Pada Celah-celah Batuan
Menurut Wardiyatmoko dan Bintarto, celah-celah batuan di daerah sedang atau daerah sekitar kutub dapat kemasukan air pada musim panas. Pada musim dingin atau malam hari, air pada celah batuan menjadi es. Karena menjadi es, volumnya bertambah besar sehingga batuan akan pecah akibat terdesak oleh es yang ada di dalam celah batuan tersebut. Peristiwa ini dapat pula terjadi di daerah-daerah pegunungan tinggi.


b. Pelapukan Kimia

Pelapukan kimia adalah pelapukan yang terjadi akibat peristiwa kimia. Misalnya air hujan yang mengandung CO2 dan oksigen, memiliki tenaga melarutkan yang besar. Bentuk-bentuk seperti ponor, dolina, uvala, jama, lokva, sungai bawah tanah, stalaktit, stalakmit, dan tiang kapur merupakan hasil pelapukan kimia di daerah karst. Gejala pelarutan akan lebih cepat jika air tersebut mengenai batuan kapur atau karst. Bentuk-bentuk itu disebut gejala-gejala karst.

1) Ponor adalah lubang masuknya aliran air ke dalam tanah berupa masuknya air sungai ke dalam tanah di daerah kapur.

2) Dolina adalah lubang di permukaan tanah kapur, yang bentuknya seperti corong, piring, dan sumur. Dolina ini terbentuk oleh air yang meresap ke dalam melalui rekah-rekah sehingga melarutkan kapur yang dilaluinya.

3) Uvala adalah beberapa dolina yang menjadi satu, merupakan dolina besar.

4) Jama adalah dolina yang dinding-dindingnya tegak lurus.

5) Lokva adalah danau di daerah karst, terjadi karena dasar dan dinding dolina tertutup oleh lapisan baru yang kedap sehingga air hujan yang jatuh akan terkumpul di dalamnya.

6) Sungai bawah tanah adalah aliran air yang terdapat di dalam tanah yang terjadi karena sungai biasa mengalir melalui daerah kapur. Aliran air tersebut meresap ke dalam celah-celah kapur dan akhirnya berkumpul serta mengalir kembali ke dalam tanah di daerah kapur.

7) Stalaktit adalah endapan kapur yang menggantung pada langitlangit gua.

8) Stalakmit adalah endapan kapur yang terdapat di dasar gua. Jika stalaktit dan stalakmit dapat menyatu maka akan menjadi tiang kapur.


c. Pelapukan Organis

Pelapukan organis adalah pelapukan yang disebabkan proses organis. Misalnya akar tumbuhan dapat menembus batuan karena akar mengeluarkan zat yang dapat melarutkan batuan. Binatang-binatang membuat sarang dengan melubangi batuan hingga hancur. Untuk bahan bangunan rumah maka manusia memecah batuan. Pelapukan batuan juga dapat disebabkan oleh daun yang membusuk di atas batuan. Pengikisan (erosi) adalah proses terkikisnya permukaan tanah yang disebabkan oleh air, angin, dan gletser.

a. Erosi Sungai

Erosi sungai ialah erosi yang disebabkan oleh air sungai, disebut juga korosi. Kekuatan korosi tergantung dari kecepatan gerak aliran sungai, daya angkut air sungai, kohesi batuan pada alur sungai, dan keadaan permukaan batuan.

Erosi sungai ada dua jenis, yaitu erosi dasar dan erosi tepi.
1) Erosi Dasar
Erosi dasar ialah erosi sungai yang pengikisannya terutama pada dasar sungai. Erosi ini terjadi pada sungai muda dan menghasilkan bentuk V dan U. Sungai bentuk V memiliki dasar yang makin dalam, sedangkan sungai bentuk U memiliki lereng yang terjal.
2) Erosi Tepi
Erosi tepi ialah erosi yang pengikisannya terutama pada tepi sungai. Erosi ini terjadi pada sungai dewasa dan sungai tua. Bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh erosi ini ialah sebagai berikut.
a) Dataran-dataran banjir, yang terdapat di kanan dan kiri sepanjang aliran sungai.
b) Meander, ialah sungai yang berbelok-belok dengan arah aliran yang tetap. Peristiwa meander biasanya terjadi pada sungai tua. Pembentukan meander dimulai bila garis arus pindah ke tepi luar belokan; di tempat ini erosi tepi berjalan kuat. Apabila terjadi gerakan massa air yang kuat karena banjir besar maka dapat terjadi aliran sungai menerobos secara lurus, akibatnya aliran sungai menjadi lurus, dan meander ditinggalkan.

b. Erosi Air Laut

Erosi air laut disebut abrasi. Abrasi ini biasanya terjadi pada pantai yang curam, misalnya: pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur. Hasilhasil abrasi air laut misalnya gua-gua pantai, cliff, dan jembatan alam (natural bridge).

c. Erosi Angin

Angin juga dapat menyebabkan terkikisnya batuan. Pengikisan batuan oleh angin disebut korasi. Hasil pengikisan angin terhadap batuan, misalnya batu jamur di daerah gurun pasir. Di daerah pantai berpasir, angin yang bertiup cukup kencang mampu mengangkut pasir-pasir yang kering dan diendapkan di dataran sehingga terbentuk bukit-bukit pasir. Hal ini banyak terdapat di pantai sebelah selatan dan utara Pulau Jawa.

d. Erosi Gletser

Erosi oleh gletser disebut eksharasi yang banyak terdapat di kutub dan gunung tinggi bersalju. Erosi ini terjadi akibat es atau salju yang mencair dan bergerak turun melalui lembah-lembah pegunungan. Akibatnya lembah-lembah yang semula berbentuk V berubah menjadi U.

e. Erosi Air Hujan

Permukaan lahan tanah yang gundul tanpa tanaman yang tumbuh di atasnya, lebih-lebih bila tanahnya tersebut miring dan gembur akan mudah sekali terjadi erosi oleh air hujan. Bentuk erosi tersebut berupa penghanyutan atau penelanjangan dari lapisan tanah bagian atas sehingga dapat menimbulkan bencana bagi daerah-daerah di bawahnya dan tanah menjadi tandus.



2. Pengendapan/Sedimentasi

Hasil erosi oleh air, angin, dan gletser, pada proses selanjutnya akan dibawa ke tempat yang lebih rendah untuk diendapkan. Adapun contoh hasil-hasil pengendapan sebagai berikut.

a. Di muara-muara sungai terdapat endapan berupa delta, misalnya delta Sungai Cimanuk, delta Sungai Brantas, dan lain-lain. Endapan juga terjadi di lembah-lembah sungai, terutama sungai yang ada di tempat datar dan berkelok-kelok.

b. Debu yang diangkut oleh angin diendapkan di tempat-tempat lain yang berupa bukit-bukit pasir yang disebut sand dunes atau berupa bulan sabit yang disebut berkhan.

c. Air laut di dekat pantai yang datar biasanya terdapat pula endapan pasir, yang disebut gosong pasir. Gosong pasir ini dapat tumbuh tinggi dan dapat membentuk empangan.

d. Batuan yang diangkut oleh luncuran gletser diendapkan pada perjalanannya yang terakhir, yaitu tempat es mencair. Endapan ini berupa tanggul-tanggul yang disebut morena, misalnya yang terdapat di lereng-lereng Pegunungan Jaya Wijaya, pegunungan di Swiss, dan pegunungan di Norwegia.

1 komentar: