June 25, 2012


Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan


Kebangkitan nasionalisme yang muncul di benua Asia dan Afrika secara tak langsung berkaitan erat dengan kebangkitan nasional di Indonesia. Atas dasar kesamaan nasib, sama-sama dijajah bangsa Barat, bangsa Jepang, Cina, Mesir, India-Pakistan, Turki melalui perjuangan masing-masing mampu memerdekakan diri dari belenggu penjajahan. Melihat kenyataan tersebut, timbullah kesadaran dan rasa percaya diri untuk bangkit melawan penjajahan melalui organisasi sosial-politik.

Kebangkitan Masyarakat India dan Pakistan

Tidak seperti Cina yang memberlakukan politik isolasi, India merupakan wilayah terbuka. Bangsa mana pun sangat mudah masuk ke wilayah India, salah satunya orang-orang Inggris. Setelah beberapa waktu menetap dengan alasan perdagangan, Inggris mendirikan EIC (English India Company) di India pada 1600, yang sebelumnya telah beroperasi di Cina. Setelah itu, diangkatlah Gubernur Howkin sebagai pemimpin EIC di Inggris.


Selain Inggris, bangsa Portugis pun sangat berminat menduduki India. Perselisihan antara kedua negara pun memuncak, namun pasukan Inggris di bawah Robert Clive berhasil memukul mundur Portugis. Kemenangan Inggris tersebut diikuti dengan penguasaan tiga daerah penting di India yakni Madras, Calcutta, dan Bombay.

Dalam upaya perluasan daerah, Inggris seringkali dihadapkan pada pertempuran-pertempuran dengan rakyat yang tidak menyukai kehadiran orang-orang kulit putih di daerahnya. Salah satu perlawanan tersebut dilakukan oleh Kerajaan Maratha di Dekkan, Punjab, di bawah pimpinan Raja Raghunat Rao.

Pertempuran tersebut terjadi selama dua fase yakni pada tahun 1775 dan 1779. Akibat dari perlawanan Maratha ini, Inggris mengalami kekalahan, tetapi pada tahun 1781 Inggris dapat mengalahkan pasukan Maratha. Hal serupa muncul dari Kerajaan Mysore. Dengan bermacam taktik dan strategi, perlawanan rakyat Mysore berdampak terhadap terkurasnya keuangan Inggris. Namun, perlawanan Mysore pun dapat dikalahkan.

Kekosongan kas Inggris membuat bangsa Inggris harus melakukan pemungutan pajak terhadap rakyat India, sehingga menyebabkan menjamurnya kemiskinan di India. Perekonomian yang buruk membuat rakyat marah dan semakin membenci Inggris.

Pada tahun 1857 – 1859 terjadi pemberontakan oleh tentara India yang tergabung di dalam tentara Inggris. Pemberontakan ini dikenal dengan sebutan The Indian Mutiny (pemberontakan prajurit India). Sebabnya adalah penderitaan rakyat India yang semakin parah, sedangkan Inggris hidup di India dengan mewah, dan perbedaan perlakuan antara serdadu Inggris dan India. Sedangkan sebab khususnya yaitu adanya perintah dari panglima tentara Inggris untuk menjilat ujung peluru lebih dulu untuk menghilangkan gemuk sebelum digunakan.

Bagi prajurit India yang beragama Hindu menyangka bahwa gemuk itu adalah gemuk sapi, yang dalam kepercayaan agama Hindu adalah binatang suci yang tidak boleh dimakan. Sedangkan prajurit India yang beragama Islam, menyangka gemuk itu adalah gemuk babi, yang dalam ajaran agama Islam babi adalah binatang yang haram untuk dimakan.

Terjadilah pemberontakan dari prajurit India, karena perintah itu dianggap sebagai penghinaan besar terhadap agama mereka. Pemberontakan dimulai pada 10 Mei 1857, diawali dari Meerut dekat Delhi yang diikuti oleh seluruh wilayah di India. Diangkatlah Raja Bahadur Shah menjadi Raja Hindustan oleh para pemberontak.

Pusat pemberontakan beralih ke Jhansi yang dipimpin oleh Ratu Ranee Lakhsmi Bai. Terdapat juga tokoh-tokoh lainnya seperti Nana Sahib dan Tantia Topi. Perlawanan ini dikenal dengan Pemberontakan Sepoy karena dibantu oleh prajurit India hasil didikan Inggris yang disebut tentara Sepoy.

Inggris mendapat bantuan dari beberapa raja India seperti dari Raja Nepal (Gurkha), Gwalior, dan Hyderabad. Pemberontakan ini sangat meropotkan Inggris, bahkan hamper dapat meruntuhkan Kerajaan Inggris di India. Tetapi dengan susah payah akhirnya pemberontakan dapat dipadamkan, yang memerlukan waktu sekitar dua tahun.

Akibat dari pemberontakan ini, nasionalisme India mulai bangkit. Bagi Inggris peristiwa ini membuka mata mereka untuk memperhatikan nasib penduduk pribumi. EIC dibubarkan, karena dianggap tidak layak memerintah India yang begitu besar. Pemerintahan dipegang langsung oleh pemerintah Inggris di London.

Pergerakan nasional India tidak hanya untuk mencapai kemerdekaan saja, melainkan juga berkeinginan untuk mencapai pembaharuan manusianya. Muncullah pergerakan yang condong pada bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan, di antaranya:

(a) Brahma Samadj,
yaitu gerakan pembaharuan agama Hindu yang bertujuan untuk mengajarkan monotheisme, menghilangkan sistem kasta, dan menghapuskan ajaran kuno seperti Sutte; tokohnya adalah Ram Moohan Roy.

(b) Rama Krisna,
yaitu aliran yang menghendaki kembali pada agama Hindu yang murni, lepas dari pengaruh Barat yang terlalu bersifat materialis; tokohnya adalah Swami Vivekananda.

(c) Santiniketan,
yaitu pembaharuan di bidang pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan budaya India; tokohnya adalah Rabindranath Tagore.

(d) Partai Kongres (All Indian National Congress, tahun 1885),
Yaitu kesatuan gerakan-gerakan nasionalisme India untuk bersamasama menuntut kemerdekaan dari penjajah Inggris; didirikan oleh Allan Octavian Home, seorang Inggris yang mencintai India pada tahun 1885. Pada awalnya Kongres bertindak kurang tegas dan cenderung telalu berhati-hati. Setelah mendapat kritikan keras dari Tilak, Kongres berubah sifatnya menjadi agresif. Tokoh-tokoh lainnya yang hadir dalam kongres tersebut adalah Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, Banerjee, Mohammad Ali Jinnah, Iskandar Mirsa, dan Liaquat Ali Khan.

Pada tahun 1906 golongan Islam keluar dari Kongres dan mendirikan Liga Muslim. Sebabnya adalah bahwa Kongres dinilai lebih mementingkan persoalan Hindu saja. Tokohnya adalah Muhammad Ali Jinnah dan Liaquat Ali Khan. Liga Muslim menjadi cikal bakal terbentuknya negara Pakistan yang merdeka tahun 1947.

Sementara itu, Mahatma Gandhi terkenal dengan aksi-aksi penentangan terhadap Inggris tanpa menggunakan kekerasan, yaitu:

(a) Satyagraha (cinta tanah air), yakni seruan untuk tidak melakukan kerja sama dengan pemerintah Inggris, atau noncooperation;

(b) Ahimsa (tidak membunuh), yakni seruan untuk tidak melakukan perlawanan tanpa kekerasan atau menggunakan senjata; musuh dikalahkan dengan kekuatan batin;

(c) Hartal (pemogokan), yakni seruan untuk melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes;

(d) Swadesi (menggunakan produk sendiri), yakni seruan untuk memakai produk sendiri dan menentang barang tekstil dari Inggris.

(e) Purna Swaraj , yaitu gerakan yang bertujuan supaya bangsa India dapat membentuk pemerintahan sendiri atas dasar kebudayaan sendiri.

Untuk menghadapi gerakan-gerakan nasionalisme rakyat India, Inggris lalu mengeluarkan beberapa undang-undang, di antaranya:

(a) undang-undang tahun 1905,
yang berisi pembagian India menjadi dua bagian. Benggala Barat untuk orang Hindu dan Benggala Barat untuk orang Islam.

(b) Rowlatt Act tahun 1919,
berisi ancaman keras bagi orang India yang berani mengadakan tindakan politik. Akan tetapi, orang India menentang tanpa rasa takut aturan itu. Sebuah peristiwa mengenaskan pada 13 April 1919 terjadi, di mana rakyat India berkumpul untuk berdoa di lapangan, tentara Inggris di bawah komando Jenderal Dyer menembaki rakyat secara membabi buta karena menganggap rakyat akan melakukan pemberontakan. Korban mati berjumlah 379 orang dan sebanyak 1137 orang menderita luka-luka. Peristiwa ini disebut Amritsar Massacre.

(c) Government of India Act tahun 1919.
Isinya adalah, pemerintahan Inggris di India dititikberatkan pada pemerintahan di provinsi-provinsi yang dipegang oleh Inggris dan India.

(d) Government of India Act tahun 1935.
Isinya Birma dipisahkan dari India, India dibentuk sebagai negara federasi, propinsi diberi otonomi, dan pertahanan dan urusan luar negeri masih diurus oleh gubernur jenderal. Kongres menolak undangundang tersebut, tetapi golongan moderat (tengah-tengah) menerimanya.

India dan Pakistan dimerdekakan oleh Inggris pada 15 Agustus 1947 dalam lingkup negara persemakmuran (Commonwealth). Pada 26 Januari 1950 India memerdekakan diri secara penuh.

0 komentar:

Post a Comment