May 30, 2012


Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan




Sumatera merupakan daerah pertama di Indonesia yang dipengaruhi Islam secara politis. Kerajaan Islam tertua pun ada di sini, yakni Samudera Pasai di Aceh. Karya sastra yang dibuat di Sumatera ini kebanyakan menggunakan bahasa Melayu yang merupakan bahasa istana dan dagang, dengan aksara Arab.


Karya sastra di Sumatera ini macam-macam bentuknya, ada yang berwujud kesusastraan agama, kesusastraan epos Islam, kesusastraan sejarah, pantun, cerita berinduk, undang-undang, cerita binatang (fabel), bahkan persuratan. Sedangkan dalam bentuknya ada yang puisi (syair) dan prosa.

Berikut ini beberapa karya sastra sejarah dan agama yang ada di Sumatera:

(1) Hikayat Raja-Raja Pasai,
menceritakan asal mula Kesultanan Samudera Pasai yang didirikan oleh Sultan Malik as-Saleh yang sebelumnya bernama Merah Sile (Merah Selu), putera bangsawan Pasai, Merah Gajah. Merah merupakan gelar bagi bangsawan Sumatera Utara. Merah Sile masuk Islam setelah bertemu dengan Syekh Ismail, seorang utusan Syekh Mekah. Syekh Ismail pula yang memberikan nama Malik as-Saleh padanya.

(2) Hikayat Aceh,
menceritakan sebagian besar tentang masa kanak-kanak hingga kebesaran Iskandar Muda; juga dikisahkan berdirinya Kerajaan Aceh. Namun, nama penulis hikayat ini tak diketahui; yang jelas, penulisnya ini bisa satu orang atau terdiri dari beberapa orang penulis yang bekerja untuk pihak Aceh.

(3) Syair Burung Pungguk, Syair Burung Pingai, dan Syair Perahu,
ketiganya hasil karya Hamzah Fansuri yang memperkenalkan bentuk syair kepada khasanah sastra Melayu. Fansuri hidup pada masa Sultan Iskandar Muda. Hamzah Fansuri memiliki seorang murid bernama Syekh Syamsuddin as-Sumatrani (Syamsuddin Pasai).

(4) Turjuman al-Mustafid (Terjemahan Pemberi Faedah),
Sebuah kitab tafsir Al-Quran dalam bahasa Melayu karya Abdur Rauf Singkel, merupakan buku tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis di Indonesia. Abdur Rauf Singkel adalah pendiri Tarekat Syattariah di Aceh pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin Tajul Alam.

(5) Hikayat Perang Palembang,
para penulisnya tak diketahui, mengisahkan perang antara pasukan Kerajaan Palembang melawan Hindia Belanda.

(6) Hikayat Melayu,
di antaranya menceritakan cerita Panji Damar Wulan, perkawinan Sultan Malaka Mansur Syah dengan puteri Jawa dan Cina, serangan Peringgi (Portugis) ke Malaka tahun 1511.

(7) Bustan al-Salatin,
yang ditulis Nuruddin ar-Raniri pada masa Sultan Iskandar Thani, menceritakan sejarah Kerajaan Aceh, raja-raja sebelum Iskandar Thani, masa kecil, perkawinan, pemakaman Baginda Iskandar Thani, hingga tiga orang raja setelah Baginda. Selain itu, kitab ini pun membahas proses penciptaan alam semesta, para nabi, pahlawan, bahkan ilmu pengetahuan.

(8) Syair Perang Mengkasar,
ditulis oleh Encik Amin, mengisahkan kejadian peperangan antara rakyat Makassar menghadapi VOC Belanda.


Sebentulnya masih banyak lagi kitab sastra berjenis sejarah dan keagaman. Berikut ini karya sastra tentang epos Islam: Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Hanifah. Sementara itu cerita berinduk contohnya Hikayat Bayan Budiman. Keempat kitab tersebut ditulis pada masa Samudera Pasai.

Selain Hamzah Fansuri, Abdur Rauf Singkel, dan Nuruddin ar-Raniri; ada beberapa nama pengarang Melayu yang cukup terkenal, di antara dari Riau, misalnya:

(1) Datuk Syahbandar Riau, menulis Kitab Adab al-Muluk;
(2) Bilal Abu, menulis Syair Siti Zawiyah;
(3) Raja Ahmad, menulis Syair Raksi, Syair Engku Puteri, Syair Perang Johor;
(4) Raja Ali, menulis Hikayat Riau, Syair Nasihat;
(5) Daeng Wuh, menulis Syair Sultan Yahya;
(6) Raja Abdullah, menulis Syair Madi, Syair Kahar Mansyur, Syair Sarkan;
(7) Raja Ali Haji, merupakan penulis Melayu paling terkenal
sepanjang masa, karya-karyanya di antaranya adalah: Gurindam Dua Belas, Syair Sultan Abdul Muluk, Bustan al- Katibin Li’l-Subyani al-Muta’alimin (Perkebunan Jurutulis bagi Kanak-Kanak yang Hendak Menuntut Belajar akan Dia), Ikatikatan Dua Belas Puji, Kitab Pengetahuan Bahasa, Syair Nasihat kepada Pemerintah, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya, Syair Hukum Nikah, dan masih banyak lagi.
(8) Tengku Said, menulis Hikayat Siak atau Sejarah Raja-Raja Melayu;
(9) Raja Hasan, menulis Syair Burung, dan masih banyak penulis-penulis lainnya.

Selain terdapat di Sumatera, kesusastraan Melayu berkembang pula di Banjar, Kalimantan Timur, yang mulai berkembang pada abad ke-18. Karya-karyanya berupa kitab keagamaan, undang-undang, dan sastra sejarah seperti Hikayat Banjar yang menceritakan proses islamisasi rakyat Banjar yang melibatkan Samudera Pasai dan Majapahit. Selain itu, ada pula karya-karya sastra yang ditulis di Semenanjung Melayu (Malaka). Sejumlah kerajaan seperti Johor, Melaka, Brunei, dan Pattani di Muangthai memiliki karya-karya sastra tersendiri yang juga memakai bahasa Melayu.

Pada perkembangan selanjutnya, sastra berbahasa Melayu merupakan cikal-bakal kesusastraan Indonesia modern, sebagaimana bahasa Melayu merupakan akar dari bahasa Indonesia.


0 komentar:

Post a Comment