June 5, 2012


Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan



Cirebon

Awalnya Cirebon adalah daerah kecil di bawah Kerajaan Sunda yang pada masa itu masih menganut Hindu. Ada dua naskah local yang menjadi informasi tentang riwayat Cirebon ini, yaitu Purwaka Caruban Nagari dan Carita Caruban. Berdasarkan Purwaka Caruban Nagari, pada abad ke-15 ada beberapa wilayah yang diberi hak otonomi oleh Kerajaan Galuh Pajajaran. Wilayah tersebut berada di sekitar Pelabuhan Muara Jati, sebuah bandar perdagangan di Cirebon.


Pada 1470, tibalah di Pelabuhan Muara Jati (masih termasuk wilayah Caruban Larang) seorang mubalig bernama Syarif Hidayatullah, anak Nyi Lara Santang, yang tak lain kemenakan Pangeran Cakrabuana. Sebelum tiba di Cirebon, Hidayatullah singgah di India, Samudera Pasai, Bantam (Banten), dan menetap cukup lama di Ngampel, Jawa Timur, pesantren Sunan Ampel. Berdasarkan mufakat anggota Wali Sanga, Syarif Hidayatullah diutus untuk menyebarkan Islam di Jawa bagian barat. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Mengenai riwayat Hidayatullah ini Purwaka Caruban Nagari

tak jauh beda dengan naskah Carita Caruban. Menurut Carita Caruban, ada dua tokoh yang dianggap pendiri Kerajaan Cirebon ini. Tokoh pertama adalah Syarif Hidayat, kelahiran Mekah. Ia merupakan anak tertua dari pasangan Nyai Lara Santang dengan Maulana Sultan Mahmud, seorang anak raja Mesir. Lara Santang sendiri adalah anak Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang naik tahta pada 1482 M. Sekembalinya dari Mekah, Syarif Hidayat menjadi pemuka Islam dan bergelar Sunan Jati. Sebagai cucu Raja Pajajaran, ia diberi kekuasaan di daerah Caruban atau Cirebon.

Di samping Syarif Hidayat, tokoh yang dianggap pendiri Cirebon adalah Fadhilah Khan, dikenal juga sebagai Fatahillah. Ia kelahiran Samudera Pasai tahun 1409. Ayahnya berasal dari Gujarat, bernama Maulana Makhdar Ibrahim. Setelah dewasa, Fadhilah Khan meninggalkan Aceh, pergi ke Jawa. Di Jawa ia diterima di Kerajaan Demak sebagai panglima pasukan Demak. Ia lalu dinikahkan dengan puteri Sunan Jati.

Berdasarkan sumber dari Tome Pires, pendiri Cirebon (dan juga Banten) adalah Faletehan. Menurut sejarawan Husein Djajadiningrat, Faletehan ini adalah Nurullah yang dikenal dengan nama Syekh Ibnu Maulana, berasal dari Pasai, Aceh. Ketika Samudera Pasai direbut oleh Portugis tahun 1521, Nurullah sedang pergi haji ke Mekah.

Sepulangnya dari Mekah tahun 1524, ia enggan tinggal di Pasai karena sudah dikuasai Portugis, lalu pergi ke Demak. Atas izin raja Demak, ia berhasil menyebarkan Islam di Banten dan kemudian membangun komunitas muslim di sana. Kemudian hari, Banten diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin. Nurullah sendiri pergi ke Cirebon dan mendirikan sebuah dinasti di sana

Berdasarkan riwayat hidupnya, dapat dipastikan bahwa Nurullah itu adalah Fadhilah Khan atau Fatahillah dalam Carita Caruban atau Faletehan menurut catatan Tome Pires. Tokoh inilah yang menggantikan kekuasaan Sunan Jati di Cirebon. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendiri Banten dan Cirebon yang sesungguhnya adalah Nurullah, yang tak lain Fadhilah Khan atau Faletehan atau Fatahillah.

Dari Cirebon, Fatahillah mengembangkan Islam ke Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Khususnya terhadap Banten ia berhasil meletakkan dasar bagi pengembangan agama Islam dan perdagangan di sana. Setelah wafat, ia dimakamkan di samping makam mertuanya, Sunan Gunung Jati.

Setelah Sunan Gunung Jati meninggal, tahta jatuh kepada Panembahan Ratu I. Pada masa pemerintahannya, Cirebon masih berada di bawah kekuasaan Demak. Namun, setelah Demak runtuh oleh Pajang, Cirebon memerdekakan diri. Kemerdekaan Cirebon ini bahkan berlangsung hingga periode Mataram berkuasa. Guna menjaga hubungan dengan Cirebon, raja Mataram lalu menikahi puteri Panembahan Ratu I. Selama itu Mataram memandang Cirebon sebagai pusat keagamaan.

Namun, hubungan Cirebon-Mataram berubah sejak tahun 1628. Ketika itu Cirebon memberikan bantuan kepada Mataram dalam menyerang Batavia yang dikuasai VOC. Setelah gagal mengusir VOC di Batavia, banyak orang Cirebon berpindah ke Banten. Tindakan orang Cirebon ini oleh Sultan Agung Mataram dianggap pengkhianatan terhadap Mataram. Karena selama ini Banten belum mau tunduk kepada Mataram. Banten bahkan membantu rakyat Surabaya ketika berkonflik dengan Mataram pada tahun 1620-1625. Oleh sebab itu, Sultan Agung lalu menyerbu Cirebon, dan sejak itu Cirebon harus mengirimkan upeti kepada Mataram.

Hubungan Cirebon-Mataram makin runyam ketika Sultan Mataram Amangkurat I mengharuskan Panembahan Ratu II, pengganti Panembahan Ratu I, untuk pindah dari Cirebon dan tinggal di Mataram. Panembahan Ratu II dikenal juga sebagai Panembahan Giri Laya. Sedangkan, pemerintahan Cirebon dijalankan oleh Pangeran Wangsakerta, anak Panembahan Ratu II. Oleh Wangsakerta, Cirebon lalu dibagi dua menjadi Kasepuhan dan Kanoman.

Ketika di Mataram terjadi pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II meminta bantuan kepada VOC. Sebagai imbalannya, VOC diberi hadiah daerah-daerah pesisir yang dikuasai Mataram. Akibatnya, Cirebon masuk dalam kekuasaan VOC. Sejak itu, VOC berhak membangun benteng, dan Cirebon mau tak mau harus membantu VOC bila berhadapan dengan musuh. Pelabuhan Cirebon pun dimonopoli oleh VOC. Ekspor lada, kayu, gula, serta impor candu diatur oleh VOC.

Pada tahun 1705, Cirebon sepenuhnya diserahkan kepada VOC oleh Sultan Paku Buwono I karena VOC telah membantu Paku Buwono I melawan Amangkurat III yang dibantu Untung Surapati. Sejak saat itu juga, Cirebon bersama Indramayu dan Priangan menjadi karesidenan dan langsung di bawah VOC.



0 komentar:

Post a Comment